ALKOHOL

ALKOHOL

II.1     TEORI ALKOHOL

Alkohol merupakan senyawa organik yang mempunyai gugus -OH yang terikat pada atom C dari rangkaian alifatis atau siklik. Sebagian alkohol digunakan sebagai pelarut, mempunyai sifat asam lemah, mudah menguap, dan mudah terbakar. Alkohol dengan jumlah C 1-4 berupa cairan, 5-9 berupa cairan kental seperti minyak, 10 atau lebih berupa zat padat.

II.1.1   Klasifikasi Alkohol

II.1.1.1            Berdasarkan R-nya (struktur)

  1. Alkohol Alifatis
    1. i.   Jenuh (etanol)
    2. ii.   Tidak jenuh (alil alkohol)
  2. Alkohol Aromatis
    1. i.      Jenuh (benzil alkohol)
    2. ii.      Tidak jenuh (sinamil alkohol)
  3. Alkohol Siklik
    1. i.      Monovalen (mentol)
    2. ii.      Polivalen (inositol)

II.1.1.2            Berdasarkan jumlah gugus -OH

  1. Alkohol Monovalen
    1. i.      Cair (methanol, etanol)
    2. ii.      Padat (setil alkohol)
  2. Alkohol Polivalen
  3. i.      Cair (propilen glikol, etilen glikol)
  4. ii.      Padat (manitol, sorbitol)

II.1.1.3            Berdasarkan letak gugus -OH pada atom C yang mengikat

  1. Alkohol Primer (metanol, etanol)
  2. Alkohol Sekunder (isopropanol)
  3. Alkohol Tersier (t-Butil alkohol)

II.1.2   Sifat Alkohol

II.1.2.1            Kelarutan

1. Alkohol cair dapat bercampur dengan alkohol lain

Alkohol padat dapat larut dalam alkohol cair

Alkohol polivalen dapat larut dalam alkohol cairAlkohol cair monovalen dapat bercampur dengan PAE

Alkohol polivalen tidak bercampur

2. Alkohol monovalen sampai dengan butanol (C 1-4) larut dalam air

Alkohol dengan C > 4, kelarutannya berkurang dalam air, lebih mudah larut dalam pelarut organik.

3. Alkohol polivalen (makin banyak gugus OH) makin mudah larut dalam air

II.1.2.2            Sifat-sifat fisika

  1. Alkohol monovalen dengan atom C 1-10 pada suhu kamar berupa cairan dengan bau dan rasa yang spesifik sedangkan dengan atom C > 10 berupa zat padat yang tidak berwarna dan tidak berbau
  2. Alkohol monovalen mempunyai titik didih yang bertambah besar dengan bertambahnya atom C. Alkohol bercabang, titik didihnya lebih rendah daripada rantai lurus dengan jumlah atom C yang sama.
  3. Alkohol polivalen, makin banyak gugus OH maka TD dan TL makin tinggi.
  4. Makin banyak atom C, maka makin tinggi indeks biasnya.

II.1.3   Identifikasi Alkohol

II.1.3.1            Organoleptis

Bentuk
Cair (methanol, etanol, dan lain-lain)
Padat (setil alkohol, dan lain-lain)
Kental (gliserin, etilen glikol, dan lain-lain)

Zat padat putih (setil alkohol)
Larutan jernih (etanol, metanol, dan lain-lain)

Rasa
Pahit (chloreton, chlorahidrat)
Manis (manitol, sorbitol)

Bau
Spesifik (amil alkohol)
Harum (benzil alkohol)

Bila dipanaskan tidak meninggalkan sisa, maka senyawa uji adalah alkohol yang mudah larut dalam air dan mudah menguap, misalnya metanol, etanol, propanol, dan lain-lain.

Bila alkohol bentuk padat mudah larut dalam air, maka senyawa uji adalah alkohol polivalen padat, misalnya manitol, sorbitol, dan lain-lain. Alkohol bentuk padat tidak larut dalam air, misalnya chloreton, setil alkohol, mentol, dan lain-lain.

II.1.4 Reaksi-Reaksi Umum

a. Reaksi Diazo

Diazo A : Asam sulfanilat 1 % dalam HCl

Diazo B : NaNO2, air

Diazo A : Diazo B = 4:1

Zat + campuran diazo A dan B +NaOH 2 N à Dipanaskan à merah

Caranya: larutan zat ditambah diazo A : diazo B (4:1), hasilnya timbul warna merah. Kalau belum merah, ditambahkan NaOH. Jika belum merah juga, dipanaskan. Namun, perlu diketahui bahwa fenol pun dapat memberi warna. Oleh karena itu, zat warna merah hasil reaksi di atas, ditambahkan amil alkohol (normal), maka akan terbentuk alkohol yang tidak larut dalam artian tidak tertarik oleh amil alkohol. Hal ini karena jika direaksikan dengan amil alcohol, fenol akan tertarik (larut), sedangkan alkohol tidak. Reaksi inilah yang digunakan untuk membedakan alkohol dengan fenol.

b. Dengan logam Na melepaskan gas H2

2R-CH2OH + 2 Na à 2R-CH2ONa + H2

Membedakan Alkohol Alifatis dengan Aromatis

Untuk membedakan alkohol alifatis dengan aromatis dapat dilakukan dengan menggunakan perekasi marquis.

Pereaksi Marquis

Zat uji dilarutkan dengan H2SO4 (p) + larutan formalin encer di dalam tabung reaksi, maka akan terbentuk cincin (merah, coklat, jinga, ungu, hijau, dan sebagainya).

Membedakan Alkohol Monovalen dan Polivalen

  • Alkohol monovalen

Esterifikasi dengan asam-asam karboksilat

Zat + asam asetat/asam salisilat + H2SO4 à dipanaskan, akan tercium bau ester

  • Alkohol polivalen

Mempertinggi keasaman asam borat

Prosedur: cek pH asam borat, tambahkan zat, maka pH dari asam borat meningkat (positif alkohol polivalen)

Reaksi Cuprifil

Prosedur: larutan zat dibasakan dengan NaOH + 1 tetes CuSO4 à terjadi kompleks Cu yang biru jernih

Reaksi Landwer

Prosedur: zat + FeCl3 à kuning tua sampai coklat jingga

Reaksi Carletti

Prosedur: larutan zat dalam air + asam oksalat + resorsin + H2SO4 (p) à ungu

Reaksi Iodoform

Zat + NaOH/NH4OH + sol Iodii (I2) à  endapan kuning (mikroskopik)

Membedakan etanol, asetaldehid, dan aseton

  • NaOH diganti dengan Na2CO3 dan NH4OH
  • NaOH
    • Etanol lambat (harus dipanaskan)
    • Asetaldehid cepat
    • Aseton cepat
    • Na2CO3
    • Etanol negatif
    • Asetaldehid positif tetapi lambat
    • Aseton positif tetapi lambat
    • NH4OH
    • Etanol à NI3 hitam (NH4OH + I2 à endapan NI3)
    • Asetaldehid à tidak terbentuk endapan
    • Aseton à NI3 terbentuk bila dipanaskan
    • Isopropil alkohol: NaOH + ; NH4OH+ ; Na2CO3

II.2      CONTOH-CONTOH ALKOHOL

II.2.1   AMIL ALKOHOL

II.2.1.1Sinonim

Pentanol

II.2.1.2Organoleptis

1)      Cairan tak berwarna

2)      Bau menyengat

3)      Sedikit larut dalam air, mudah larut dalam pelarut organik.

4)      Kegunaan : pelarut untuk bahan-bahan berminyak

II.2.1.3.  Reaksi-reaksi

1)   Reaksi Umum

1. Reaksi Diazo (Reaksi umum alkohol), untuk membedakan alkohol

dan fenol

Diazo A : Asam sulfanilat 1 % dalam HCl

Diazo B : NaNO2, air

Diazo A : Diazo B = 4:1

Zat + campuran diazo A dan B +NaOH 2 N –> Dipanaskan –> merah

Caranya: larutan zat ditambah dizo A : diazo B (4:1), hasilnya timbul warna merah. Kalau belum mera, ditambahkan NaOH. Jika belum merah juga, dipanaskan. Namun, perlu diketahui bahwa fenol pun dapat memberi warna. Oleh karena itu, zat warna merah hasil reaksi di atas, ditambahkan amil alkohol (normal), maka akan terbentuk alkohol yang tidak larut dalam artian tidak tertarik oleh amil alkohol. Hal ini karena jika direaksikan dengan amil alkohol, fenol akan tertarik (larut), sedangkan alkohol tidak. Reaksi inilah yang digunakan untuk membedakan alkohol dengan fenol.

2.Reaksi Marquis untuk membedakan alkohol primer, sekunder dan

tersier

Zat + formalin + H2SO4 (p) –> cincin

3. Reaksi Cuprifil untuk membedakan alkohol monovalen dan

polivalen

Zat + NaOH + 1 tetes CuSO4 –> kompleks biru jernih

4. Zat + Asam borat –> mempertinggi keasaman Asam borat

Reaksi ini dilakukan untuk membedakan antara alkohol monovalen dan polivalen

5. Reaksi Iodoform untuk membedakan alkohol primer, sekunder dan tersier

zat + NaOH/NH4OH + I2 –> endapan kuning

2)   Reaksi Spesifik

  1. Zat + K2CrO7, panaskan dalam tabung tertutup –> bau asam valerianat
  2. Zat + asam asetat + H2SO4, kocok –> bau ester

c.Zat + vanilin + H2SO4 pekat –> coklat bau durian. Diencerkan dengan air  –> hijau

  1. Zat + DAB H2SO4 –> jingga coklat
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: