TEMPUYUNG

TEMPUYUNG – Sonchus arvensis L.

Sejarah……

Sonchus arvensis spp. arvensis dilaporkan pertama kali pada tahun 1814 di Pennsylvania. Koleksi pertama Sonchus arvensis ssp. glabrescens di Amerika Utara berasal dari Maine pada tahun 1894. Koleksi tambahan dilaporkan berasal dari Massachusetts dan Ohio di awal tahun 1902.

Tempuyung adalah herba menahun dari genus Sonchus. Tempuyung dikenal sebagai tanaman pinggiran dan merupakan tanaman asli Eurasia (Eropa dan Asia Barat) dan Afrika daerah tropis. Tempuyung diperkenalkan di Amerika Utara sebagai pengotor biji-bijian (seed contaminant). Tanaman ini ditemukan di kebanyakan area di bumi. Nama sonchus diturunkan dari bahasa Yunani “sonchos” karena batangnya berlubang. Ada juga sumber yang menyebutkan bahwa sonchos diturunkan dari kata dalam bahasa Yunani, soos, safe, dan echein karena menghasilkan getah yang menyehatkan. Arvensis, nama latin kedua tanaman ini menyatakan preferensinya untuk dibudidayakan di atas tanah. Tempuyung (sow thistle) memiliki getah latex berwarna putih seperti susu yang dikeluarkan pada saat bagian tanaman terpotong atau rusak. Dari fakta inilah, tempuyung mendapat nama umum “sow thistle” karena digunakan sebagai pakan sapi yang dipercaya dapat meningkatkan produktivitas susu sapi. Tempuyung juga digunakan sebagai pakan kelinci, sehingga umum dikenal sebagai hare thistles atau hare lettuces. Tempuyung juga dapat dimakan oleh manusia sebagai sayuran, daun yang sudah tua dan batangnya dapat berasa pahit, namun daun yang masih muda memiliki rasa yang mirip seperti selada. Tempuyung diberi nama puha atau rareke karena sering dikonsumsi di New Zealand sebagai sayuran terutama oleh bangsa Maori. Di banyak area, tempuyung dianggap sebagai rumput berbahaya karena dapat tumbuh sangat pesat pada area yang luas terutama bila kondisi berangin mendukung penyebaran bijinya. Sonchus arvensis digunakan juga sebagai pakan larva beberapa spesies Lepidoptera.

Tempat Tumbuh…..

Tempuyung, yang memiliki nama ilmiah Sonchus arvensis Linn. ini tumbuh liar di area terbuka yang terkena paparan sinar matahari atau sedikit terlindung, seperti daerah di tebing-tebing, pematang, tepi saluran air yang baik tata airnya, atau tanah terlantar. Saat ini, tempuyung tumbuh di kebanyakan daerah di permukaan bumi. Daerah dengan curah hujan merata sepanjang tahun atau daerah dengan musim kemarau  pendek juga cocok sebagai tempat hidup tempuyung. Di Indonesia, tempuyung tumbuh liar di Pulau Jawa terutama di area terbuka dengan sedikit naungan. Tumbuhan ini ditemukan pada daerah yang banyak turun hujan pada ketinggian 50 m hingga 1.650 m di atas permukaan laut. Selain tumbuh liar, tempuyung juga bisa ditanam sebagai tanaman pekarangan.

Budidaya……..

Tanaman tempuyung dapat dibudidayakan melalui perbanyakan melalui biji atau dikembangbiakkan secara vegetatif. Secara ekonomis, tanaman tempuyung dapat menghasilkan pendapatan tambahan bagi para petani. Pada lahan seluas 100 m2, lahan yang diolah dan ditanami tempuyung, akan diperoleh 40 kg daun tempuyung basah, dengan harga jual Rp 1.000.00/kg. Tempuyung dapat ditanam secara tumpangsari dengan tumbuhan holtikultura lainnya. Tanaman ini dapat dipanen setiap 2-3 bulan sekali. Secara umum, budidaya tempuyung dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Lahan yang akan digunakan, diolah dengan bedengan 20-30 cm. Panjang bedengan disesuaikan dengan keadaan lahan, dan dipupuk dengan pupuk organik.
b. Pilih bibit yang baik, seragam dengan tinggi 10 cm, berdaun 4 (berumur dua bulan), sebaiknya dipindahkan dari persemaian yang dibuat terlebih dahulu. Tanamkan bibit tersebut ke dalam lubang-lubang yang tersedia sedalam 5 cm. Padatkan tanah sekitar pangkal bibit, dengan jarak tanam 30-40 cm.

c. Pemeliharaan tanaman tempuyung tidak terlalu sulit karena tanaman ini dapat tumbuh liar di sembarang tempat. Untuk mendapatkan hasil yang baik, diperlukan pemeliharaan yang intensif, antara lain dengan penyiraman, penyulaman, penyiangan, pemupukan dan pengendalian hama.

d.  Menurut Laporan Iptekda LIPI, waktu panen yang baik adalah sebelum tanaman tersebut berbunga, sehingga diperoleh pertumbuhan vegetatif  yang optimal. Panen pertama dilakukan pada usia 2,5-3 bulan. Cara memanen daun tempuyung yaitu dengan memotong daun dan batang sampai pangkalnya dengan menggunakan gunting atau pisau tajam. Tanaman tersebut akan segera tumbuh kembali dengan munculnya tunas dan daun-daun baru. Panen kedua dilakukan dua bulan setelah panen pertama, dan seterusnya. Tanaman tersebut dapat dipanen 4-5 kali.

Menurut Materia Medika Indonesia jilid I, perbanyakan tempuyung dapat menggunakan bibit dari biji, dapat juga menggunakan bonggol akar dari tanaman yang daunnya habis dipanen. Tumbuhan ini sangat mudah dibudidayakan dengan biji. Biji tempuyung sangat halus, 1 gram biji berserat mengandung 2.500 biji, sedang biji tanpa serat mengandung 3.000 biji. Daya kecambah biji cepat menurun, oleh karena itu, sangat baik menggunakan biji yang baru yang disimpan paling lama 1 bulan.

Benih memerlukan penyemaian lebih dahulu agar tidak banyak yang mati kekeringan, rusak oleh terik matahari, terlalu basah atau lembab dan pengaruh keadaan lingkungan buruk yang lain. Persemaian dibuat dengan bedengan yang diolah dengan baik, permukaan butir tanahnya dihaluskan dan sebaiknya dilapisi pasir setebal 2 hingga 3 cm. Permukaan persemaian ditutup dengan lembaran plastik. Persemaian diberi atap pelindung yang menghadap ke timur. Untuk 1 hektar per tanaman diperlukan 100 g sampai 200 g biji tanpa serat dengan luas persemaian 10m2 sampai 20m2. Benih disebar rata di persemaian dan akan tumbuh 4 sampai 5 hari kemudian. Benih yang telah berumur 1 minggu mulai diperjarang dan dicabut untuk dipindahkan ke lubang sebesar pensil yang dibuat di permukaan bumbungan tanah yang telah dicampur pupuk kandang dan dibungkus dengan daun; tinggi bumbungan 5 cm dan garis tengah 3 cm. Tiap bumbungan diisi dengan 1 bibit.

Pemeliharaan persemaian dilakukan dengan penyiraman pagi dan sore hari, memperpanjang bibit dan memusnahkan bagian bibit yang mulai terserang penyakit. Setelah berumur 2 bulan, bibit dalam bumbungan sudah cukup besar dan kuat untuk ditanam di kebun; dua minggu sebelum ditanam, bibit dalam bumbungan dipindahkan ke tempat yang lebih terang untuk melatih tanaman terhadap terik matahari, ukuran bibit pada waktu dipindahkan ke kebun mencapai 3 sampai 5 cm. Berdaun 4 sampai 5 helai, panjang daun 5 sampai 10 cm dan lebar 2 sampai 3 cm.

Sonchus arvensis dapat ditanam di tanah yang kering atau tegalan pada musim hujan. Penanaman pada musim kemarau akan berhasil bila dilakukan di tanah yang dapat diairi, misalnya tanah sawah. Pengelolaan tanah dilakukan dengan mencangkul dua kali atau menggarpu satu kali, meratakan tanah dan membuat saluran tata air di sekeliling petakan. Pada keadaan tanah yang berat dan kurang baik tata airnya, tanah dicangkul lebih dalam dan dibuat bedengan atau guludan. Sebelum bedengan ditanami, dapat ditambahkan pupuk kandang sebanyak 10-15 ton tiap hektar, terutama pada tanah ynag kurang baik keadaan fisiknya dan kurang kesuburannya. Pada guludan dibuat lubang tanaman dengan cangkul atau tugal dengan jarak tanam 40 – 60 cm untuk ditanami bibit. Penanaman sebaiknya dilakukan lewat tengah hari, agar tanaman tidak cepat layu karena kepanasan. Pemakaian naungan sementara berupa daun atau batang pelepah pisang sangat dianjurkan, terutama untuk bibit yang kurang atau tidak terlatih terhadap sinar matahari selama di bumbungan. Naungan sementara ini diperlukan selama 1 – 2 minggu atau sampai bibit mulai lilir. Pemeliharaan terdiri dari penyiraman bila 2 atau 3 hari tidak ada hujan, menyulam 1 minggu sampai 2 minggu setelah tanam, menyiang 3 – 5 kali, memupuk pada umur 3 dan 8 minggu setelah tanam serta memangkas batang bunga agar pertumbuhan daun lebih banyak. Pemupukan dengan 34 kg nitrogen tiap hektar pada umur 3 minggu setelah tanam dapat meningkat hasil sebanyak 14%. Pemupukan kedua bila dipandang perlu diberikan pada umur 8 minggu setelah tanam dengan jumlah pupuk yang sama. Panen daun pertama dilakukan pada umur 2 bulan setelah tanam; panen selanjutnya dilakukan tiap ½ bulan sampai 1 bulan sekali hingga tanaman berumur 3 bulan sampai 5 bulan setelah tanam. Hasil yang diperoleh adalah 970 kg sampai 1.200 kg daun kering tiap hektar pada panen yang tidak terserang jamur karat (Puccinia Sonchus arvensis) dan penyakit busuk pangkal batang atau busuk akar. Bila terdapat serangan penyakit jamur karat, hasil yang diperoleh dapat berkurang 30% sampai 80%, yakni hanya dari panen pertama dan kedua. Penyakit karat merupakan faktor penghambat bagi budidaya Sonchus. Daun yang terserang, penuh bercak-bercak coklat kehitaman dan akhirnya mengering.

Penggunaan…..

Tempuyung telah lama berperan dalam dunia pengobatan tradisional. Tempuyung memiliki rasa pahit dan dingin serta berkhasiat menghilangkan panas dan racun, peluruh kencing (diuretik), penghancur batu (lipotriptik), antiurolitiasis dan menghilangkan bengkak, dengan cara ditempelkan pada bagian yang bengkak. Pemanfaatan daun tempuyung sebagai lipotriptika dan pelancar air seni semakin berkembang dan meluas. Hal ini terbukti dari beberapa jamu yang digunakan untuk pengobatan batu ginjal mencantumkan tempuyung sebagai salah satu penyusunnya. Di daerah Tawangmangu, daun tempuyung sudah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai jamu bagi wanita sehabis melahirkan untuk memulihkan kembali kesahatan fisiknya. Sedangkan di Cina, daun tempuyung selain digunakan sebagai obat juga digunakan sebagi insektisida (Supriadi, dkk, 2001). Herba tempuyung berguna untuk mengobati radang payudara, sedangkan daun tempuyung digunakan untuk mengobati hipertensi, kencing batu, kandung kencing dan empedu berbatu, dan asam urat.


Klasifikasi dan Tata Nama….

Taksonomi menurut PLANTS Profile (United States Department of Agriculture dari http://plants.usda.gov/java/profile?symbol=SOARA2) adalah sebagai berikut.

Kingdom           :      Plantae – tumbuhan

Subkingdom      :      Tracheobionta – tumbuhan berpembuluh

Superdivisi        :      Spermatophyta – tumbuhan berbiji

Divisi                 :      Magnoliophyta – tumbuhan berbunga

Kelas                 :      Magnoliopsida – Dikotil

Subkelas            :      Asteridae

Ordo                  :      Asterales

Family               :      Asteraceae

Genus                :      Sonchus

Species              :      Sonchus arvensis L.

Subspecies       :      Sonchus arvensis L. ssp. arvensis

Nama daerah : Jombang, Galibug, Lalakina, Lempung, Rayana (Sunda), Lampenas, Gempur batu, Tempuyung, Niu She Tou, Lampaka (Filipina), Laitron des champs (Perancis), Sow thisle (Inggris)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: