Reaksi hipersentivitas

5 Januari, 2010

Reaksi hipersentivitas yaitu reaksi imun patologik, terjadi akibat respon imun yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. Pengaruh yang tidak menguntungkan dari proses imun menjadi dasar dari banyak penyakit pada manusia dan dapat mengganggu setiap sistem organ yang penting. Selain itu, perubahan karakteristik pada reaktan imun yang memberikan kunci diagnostik yang penting menyertai banyak keadaan sebagai akibat atau peristiwa yang pararel. Sekarang sudah jelas, bahwa respon antibodi normal dan respon yang diperantarai sel menyangkut serangkaian langkah, yang masing-masing dimodulasi oleh kelompok-kelompok sel tertentu. Gangguan pada proses pengawasan ini dapat menyebabkan reaksi imun yang berlebihan atau yang tidak semestinya. Lebih jarang, penyakit terjadi bila mekanisme hipersensitivitas tipe cepat dan lambat yang normal bersifat melindungi, terganggu atau gagal berkembang biak secara normal.

Berbagai keadaan imunologik dapat dipandang sebagai keseimbangan antara pengaruh patogenik dari dua kelompok faktor: benda asing dari suatu penyakit yang berpotensi membahayakan (misalnya, mikroorganisme) dan respon pertahanan tubuh, yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan atau gangguan fungsi. Imunitas pelindung dan penyakit alergi bersama-sama memiliki respon jaringan terhadap zat-zat yang dikenal sebagai “asing”. Mekanisme imun memberikan pertahanan yang esensial melawan invasi organisme yang menimbulkan cedera dan timbulnya tumor ganas, fungsi yang sudah menjamin mereka bertahan selama evolusi vertebrata. Namun, proses-proses yang sama ini dapat ditimbulkan oleh agen-agen ekstrinsik yang relatif tidak membahayakan, dan kadang-kadang dapat memusatkan reaksi pada komponen-komponen jaringan hospes. Dalam keadaan ini, maka hasil bersih dari keterbukaan dan respon hospes yang spesifik tidak menguntungkan; gambaran keadaan penyakit yang timbul dikenal sebagai penyakit imunologik. Keadaan ini berbeda-beda jenis berkisar dari gangguan ringan, gangguan kulit atau gangguan membran mukosa yang kronik sampai keadaan katatrofik yang mematikan dalam berberapa detik.

Selanjutnya, karena penyakit imunologik ditentukan oleh reaktivitas hospes maupun oleh jenis dan kekuatan antigenik, maka perbedaan tempat prevalensi adalah menyolok. Namun, secara keseluruhan, gangguan ini sangat sering dijumpai, dan dampak mereka pada kehidupan dan produktivitas manusia nyata di seluruh dunia. Reaksi-reaksi klinis dari hipersensitivitas cepat atau lambat terjadi karena sebelumnya pernah kontak dengan agen tertentu, agen yang mempunyai karakteristik kimia tertentu, yang mengsensitisasi/individu terhadap partikel tertentu. Peristiwa seluluar yang menyertai dan menimbulkan kemampuan memberi respon hipersensitiviats dinamakan sensitisasi. Terkenanya kembali dengan antigen tertentu dapat menyebabkan sel yang sudah tersensitisasi, seperti halnya beberapa tipe imunoglobulin, menghasilkan respon “pertahanan” yang khusus. Tidak mengherankan, bahwa reaksi hipersensitivitas klinis pada manusia menunjukkan bukti adanya lebih dari satu proses imunologis, masing-masing dengan sistem amplifikasinya yang khusus. Kompleksitas seperti ini mudah dimengerti, di mana “penyerang” itu sendiri secara antigenik bersifat kompleks, (misalnya, suatu mikroorganisme) tetapi juga dapat ditimbulkan oleh protein tunggal tertentu. Pembentukan antibodi terhadap toksin dan terhadap kuman, yang memberi proteksi kepada tubuh, kemudian ternyata tidak selalu bermanfaat sebagai perlindungan karena proses kekebalan juga mempunyai potensi untuk menimbulkan reaksi yang merugikan tubuh. Magendi (1837) melaporkan bahwa anjing yang disuntik berkali-kali dengan albumin telur dapat mati mendadak. Portier dan Richet yang menyuntik aning dengan ekstrak anemon laut untuk mendapatkan reaksi kekebalan, ternyata menemukan reaksi yang sangat berlainan pada suntikan kedua karena anjing itu menjadi sakit keras dan kemudian mati. Mereka menamakan reaksi ini anaphylaxis (ana = menentang, phylixis = proteksi). Kemudian ditemukan reaksi yang serupa pada binatang lain dan pada pemakaian serum imun berasal dari binatang untuk pengobatan penyakit infeksi pada manusia juga ditemukan reaksi yang tidak diinginkan. Von Pirquet (1906) mengusulkan nama “alergi” yang berarti reaksi yang berlainan. Pada waktu itu, penambahan daya tahan tubuh disebut kekebalan atau imunitas dan penambahan kepekaan tubuh disebut hipersentivitas. Sekarang istilah hipersensitivitas dan alergi dianggap sebagai sinonim dan keduanya menunjukkan kondisi badan yang berubah setelah berkontak dengan antigen, sedemikian rupa sehingga antigen itu atau antigen yang mirip dengannya dapat menimbulkan reaksi patologis dalam badan.

Seperti yang telah disebutkan diatas, reaksi alergi semula dibagi dalam 2 golongan berdasarkan kecepatan timbulnya reaksi, yaitu: 1. Tipe cepat (immediate type, antibody-mediated). Respon muncul sekitar dua puluh menit setelah terkena alergen 2. Tipe lambat (delayed type, cell-mediated). Respon muncul satu hari atau lebih setelah terpapar. Adanya perbedaan waktu disebabkan perbedaan mediator yang terlibat. Jika reaksi hipersensitivitas tipe cepat melibatkan sel B, reaksi hipersensitivitas tipe lambat melibatkan sel T. Coombs dan Gell membedakan 4 jenis reaksi hipersensitivitas dan kemudian ditambah 1 jenis lagi reaksi yang lain. Reaksi tipe I, II, III dan V berdasarkan reaksi antara antigen dan antibodi humoral dan digolongkan dalam jenis reaksi tipe cepat, walaupun kecepatan timbulnya reaksi mungkin berbeda. Reaksi tipe IV mengikutsertakan reseptor dan permukaan sel limfosit (cell mediated) dan karena reaksinya lambat disebut tipe lambat (delayed type). Kelima jenis reaksi tersebut adalah:

Tipe I : Anafilaksis

Tipe II : Cytotoxic

Tipe III : Complex-mediated

Tipe IV : Cell-mediated (delayed type)

Type V : Stimulatory hypersensitivity

ALKOHOL

24 Desember, 2009

ALKOHOL

II.1     TEORI ALKOHOL

Alkohol merupakan senyawa organik yang mempunyai gugus -OH yang terikat pada atom C dari rangkaian alifatis atau siklik. Sebagian alkohol digunakan sebagai pelarut, mempunyai sifat asam lemah, mudah menguap, dan mudah terbakar. Alkohol dengan jumlah C 1-4 berupa cairan, 5-9 berupa cairan kental seperti minyak, 10 atau lebih berupa zat padat.

II.1.1   Klasifikasi Alkohol

II.1.1.1            Berdasarkan R-nya (struktur)

  1. Alkohol Alifatis
    1. i.   Jenuh (etanol)
    2. ii.   Tidak jenuh (alil alkohol)
  2. Alkohol Aromatis
    1. i.      Jenuh (benzil alkohol)
    2. ii.      Tidak jenuh (sinamil alkohol)
  3. Alkohol Siklik
    1. i.      Monovalen (mentol)
    2. ii.      Polivalen (inositol)

II.1.1.2            Berdasarkan jumlah gugus -OH

  1. Alkohol Monovalen
    1. i.      Cair (methanol, etanol)
    2. ii.      Padat (setil alkohol)
  2. Alkohol Polivalen
  3. i.      Cair (propilen glikol, etilen glikol)
  4. ii.      Padat (manitol, sorbitol)

II.1.1.3            Berdasarkan letak gugus -OH pada atom C yang mengikat

  1. Alkohol Primer (metanol, etanol)
  2. Alkohol Sekunder (isopropanol)
  3. Alkohol Tersier (t-Butil alkohol)

II.1.2   Sifat Alkohol

II.1.2.1            Kelarutan

1. Alkohol cair dapat bercampur dengan alkohol lain

Alkohol padat dapat larut dalam alkohol cair

Alkohol polivalen dapat larut dalam alkohol cairAlkohol cair monovalen dapat bercampur dengan PAE

Alkohol polivalen tidak bercampur

2. Alkohol monovalen sampai dengan butanol (C 1-4) larut dalam air

Alkohol dengan C > 4, kelarutannya berkurang dalam air, lebih mudah larut dalam pelarut organik.

3. Alkohol polivalen (makin banyak gugus OH) makin mudah larut dalam air

II.1.2.2            Sifat-sifat fisika

  1. Alkohol monovalen dengan atom C 1-10 pada suhu kamar berupa cairan dengan bau dan rasa yang spesifik sedangkan dengan atom C > 10 berupa zat padat yang tidak berwarna dan tidak berbau
  2. Alkohol monovalen mempunyai titik didih yang bertambah besar dengan bertambahnya atom C. Alkohol bercabang, titik didihnya lebih rendah daripada rantai lurus dengan jumlah atom C yang sama.
  3. Alkohol polivalen, makin banyak gugus OH maka TD dan TL makin tinggi.
  4. Makin banyak atom C, maka makin tinggi indeks biasnya.

II.1.3   Identifikasi Alkohol

II.1.3.1            Organoleptis

Bentuk
Cair (methanol, etanol, dan lain-lain)
Padat (setil alkohol, dan lain-lain)
Kental (gliserin, etilen glikol, dan lain-lain)

Zat padat putih (setil alkohol)
Larutan jernih (etanol, metanol, dan lain-lain)

Rasa
Pahit (chloreton, chlorahidrat)
Manis (manitol, sorbitol)

Bau
Spesifik (amil alkohol)
Harum (benzil alkohol)

Bila dipanaskan tidak meninggalkan sisa, maka senyawa uji adalah alkohol yang mudah larut dalam air dan mudah menguap, misalnya metanol, etanol, propanol, dan lain-lain.

Bila alkohol bentuk padat mudah larut dalam air, maka senyawa uji adalah alkohol polivalen padat, misalnya manitol, sorbitol, dan lain-lain. Alkohol bentuk padat tidak larut dalam air, misalnya chloreton, setil alkohol, mentol, dan lain-lain.

II.1.4 Reaksi-Reaksi Umum

a. Reaksi Diazo

Diazo A : Asam sulfanilat 1 % dalam HCl

Diazo B : NaNO2, air

Diazo A : Diazo B = 4:1

Zat + campuran diazo A dan B +NaOH 2 N à Dipanaskan à merah

Caranya: larutan zat ditambah diazo A : diazo B (4:1), hasilnya timbul warna merah. Kalau belum merah, ditambahkan NaOH. Jika belum merah juga, dipanaskan. Namun, perlu diketahui bahwa fenol pun dapat memberi warna. Oleh karena itu, zat warna merah hasil reaksi di atas, ditambahkan amil alkohol (normal), maka akan terbentuk alkohol yang tidak larut dalam artian tidak tertarik oleh amil alkohol. Hal ini karena jika direaksikan dengan amil alcohol, fenol akan tertarik (larut), sedangkan alkohol tidak. Reaksi inilah yang digunakan untuk membedakan alkohol dengan fenol.

b. Dengan logam Na melepaskan gas H2

2R-CH2OH + 2 Na à 2R-CH2ONa + H2

Membedakan Alkohol Alifatis dengan Aromatis

Untuk membedakan alkohol alifatis dengan aromatis dapat dilakukan dengan menggunakan perekasi marquis.

Pereaksi Marquis

Zat uji dilarutkan dengan H2SO4 (p) + larutan formalin encer di dalam tabung reaksi, maka akan terbentuk cincin (merah, coklat, jinga, ungu, hijau, dan sebagainya).

Membedakan Alkohol Monovalen dan Polivalen

  • Alkohol monovalen

Esterifikasi dengan asam-asam karboksilat

Zat + asam asetat/asam salisilat + H2SO4 à dipanaskan, akan tercium bau ester

  • Alkohol polivalen

Mempertinggi keasaman asam borat

Prosedur: cek pH asam borat, tambahkan zat, maka pH dari asam borat meningkat (positif alkohol polivalen)

Reaksi Cuprifil

Prosedur: larutan zat dibasakan dengan NaOH + 1 tetes CuSO4 à terjadi kompleks Cu yang biru jernih

Reaksi Landwer

Prosedur: zat + FeCl3 à kuning tua sampai coklat jingga

Reaksi Carletti

Prosedur: larutan zat dalam air + asam oksalat + resorsin + H2SO4 (p) à ungu

Reaksi Iodoform

Zat + NaOH/NH4OH + sol Iodii (I2) à  endapan kuning (mikroskopik)

Membedakan etanol, asetaldehid, dan aseton

  • NaOH diganti dengan Na2CO3 dan NH4OH
  • NaOH
    • Etanol lambat (harus dipanaskan)
    • Asetaldehid cepat
    • Aseton cepat
    • Na2CO3
    • Etanol negatif
    • Asetaldehid positif tetapi lambat
    • Aseton positif tetapi lambat
    • NH4OH
    • Etanol à NI3 hitam (NH4OH + I2 à endapan NI3)
    • Asetaldehid à tidak terbentuk endapan
    • Aseton à NI3 terbentuk bila dipanaskan
    • Isopropil alkohol: NaOH + ; NH4OH+ ; Na2CO3

II.2      CONTOH-CONTOH ALKOHOL

II.2.1   AMIL ALKOHOL

II.2.1.1Sinonim

Pentanol

II.2.1.2Organoleptis

1)      Cairan tak berwarna

2)      Bau menyengat

3)      Sedikit larut dalam air, mudah larut dalam pelarut organik.

4)      Kegunaan : pelarut untuk bahan-bahan berminyak

II.2.1.3.  Reaksi-reaksi

1)   Reaksi Umum

1. Reaksi Diazo (Reaksi umum alkohol), untuk membedakan alkohol

dan fenol

Diazo A : Asam sulfanilat 1 % dalam HCl

Diazo B : NaNO2, air

Diazo A : Diazo B = 4:1

Zat + campuran diazo A dan B +NaOH 2 N –> Dipanaskan –> merah

Caranya: larutan zat ditambah dizo A : diazo B (4:1), hasilnya timbul warna merah. Kalau belum mera, ditambahkan NaOH. Jika belum merah juga, dipanaskan. Namun, perlu diketahui bahwa fenol pun dapat memberi warna. Oleh karena itu, zat warna merah hasil reaksi di atas, ditambahkan amil alkohol (normal), maka akan terbentuk alkohol yang tidak larut dalam artian tidak tertarik oleh amil alkohol. Hal ini karena jika direaksikan dengan amil alkohol, fenol akan tertarik (larut), sedangkan alkohol tidak. Reaksi inilah yang digunakan untuk membedakan alkohol dengan fenol.

2.Reaksi Marquis untuk membedakan alkohol primer, sekunder dan

tersier

Zat + formalin + H2SO4 (p) –> cincin

3. Reaksi Cuprifil untuk membedakan alkohol monovalen dan

polivalen

Zat + NaOH + 1 tetes CuSO4 –> kompleks biru jernih

4. Zat + Asam borat –> mempertinggi keasaman Asam borat

Reaksi ini dilakukan untuk membedakan antara alkohol monovalen dan polivalen

5. Reaksi Iodoform untuk membedakan alkohol primer, sekunder dan tersier

zat + NaOH/NH4OH + I2 –> endapan kuning

2)   Reaksi Spesifik

  1. Zat + K2CrO7, panaskan dalam tabung tertutup –> bau asam valerianat
  2. Zat + asam asetat + H2SO4, kocok –> bau ester

c.Zat + vanilin + H2SO4 pekat –> coklat bau durian. Diencerkan dengan air  –> hijau

  1. Zat + DAB H2SO4 –> jingga coklat

TEMPUYUNG

24 Desember, 2009

TEMPUYUNG – Sonchus arvensis L.

Sejarah……

Sonchus arvensis spp. arvensis dilaporkan pertama kali pada tahun 1814 di Pennsylvania. Koleksi pertama Sonchus arvensis ssp. glabrescens di Amerika Utara berasal dari Maine pada tahun 1894. Koleksi tambahan dilaporkan berasal dari Massachusetts dan Ohio di awal tahun 1902.

Tempuyung adalah herba menahun dari genus Sonchus. Tempuyung dikenal sebagai tanaman pinggiran dan merupakan tanaman asli Eurasia (Eropa dan Asia Barat) dan Afrika daerah tropis. Tempuyung diperkenalkan di Amerika Utara sebagai pengotor biji-bijian (seed contaminant). Tanaman ini ditemukan di kebanyakan area di bumi. Nama sonchus diturunkan dari bahasa Yunani “sonchos” karena batangnya berlubang. Ada juga sumber yang menyebutkan bahwa sonchos diturunkan dari kata dalam bahasa Yunani, soos, safe, dan echein karena menghasilkan getah yang menyehatkan. Arvensis, nama latin kedua tanaman ini menyatakan preferensinya untuk dibudidayakan di atas tanah. Tempuyung (sow thistle) memiliki getah latex berwarna putih seperti susu yang dikeluarkan pada saat bagian tanaman terpotong atau rusak. Dari fakta inilah, tempuyung mendapat nama umum “sow thistle” karena digunakan sebagai pakan sapi yang dipercaya dapat meningkatkan produktivitas susu sapi. Tempuyung juga digunakan sebagai pakan kelinci, sehingga umum dikenal sebagai hare thistles atau hare lettuces. Tempuyung juga dapat dimakan oleh manusia sebagai sayuran, daun yang sudah tua dan batangnya dapat berasa pahit, namun daun yang masih muda memiliki rasa yang mirip seperti selada. Tempuyung diberi nama puha atau rareke karena sering dikonsumsi di New Zealand sebagai sayuran terutama oleh bangsa Maori. Di banyak area, tempuyung dianggap sebagai rumput berbahaya karena dapat tumbuh sangat pesat pada area yang luas terutama bila kondisi berangin mendukung penyebaran bijinya. Sonchus arvensis digunakan juga sebagai pakan larva beberapa spesies Lepidoptera.

Tempat Tumbuh…..

Tempuyung, yang memiliki nama ilmiah Sonchus arvensis Linn. ini tumbuh liar di area terbuka yang terkena paparan sinar matahari atau sedikit terlindung, seperti daerah di tebing-tebing, pematang, tepi saluran air yang baik tata airnya, atau tanah terlantar. Saat ini, tempuyung tumbuh di kebanyakan daerah di permukaan bumi. Daerah dengan curah hujan merata sepanjang tahun atau daerah dengan musim kemarau  pendek juga cocok sebagai tempat hidup tempuyung. Di Indonesia, tempuyung tumbuh liar di Pulau Jawa terutama di area terbuka dengan sedikit naungan. Tumbuhan ini ditemukan pada daerah yang banyak turun hujan pada ketinggian 50 m hingga 1.650 m di atas permukaan laut. Selain tumbuh liar, tempuyung juga bisa ditanam sebagai tanaman pekarangan.

Budidaya……..

Tanaman tempuyung dapat dibudidayakan melalui perbanyakan melalui biji atau dikembangbiakkan secara vegetatif. Secara ekonomis, tanaman tempuyung dapat menghasilkan pendapatan tambahan bagi para petani. Pada lahan seluas 100 m2, lahan yang diolah dan ditanami tempuyung, akan diperoleh 40 kg daun tempuyung basah, dengan harga jual Rp 1.000.00/kg. Tempuyung dapat ditanam secara tumpangsari dengan tumbuhan holtikultura lainnya. Tanaman ini dapat dipanen setiap 2-3 bulan sekali. Secara umum, budidaya tempuyung dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Lahan yang akan digunakan, diolah dengan bedengan 20-30 cm. Panjang bedengan disesuaikan dengan keadaan lahan, dan dipupuk dengan pupuk organik.
b. Pilih bibit yang baik, seragam dengan tinggi 10 cm, berdaun 4 (berumur dua bulan), sebaiknya dipindahkan dari persemaian yang dibuat terlebih dahulu. Tanamkan bibit tersebut ke dalam lubang-lubang yang tersedia sedalam 5 cm. Padatkan tanah sekitar pangkal bibit, dengan jarak tanam 30-40 cm.

c. Pemeliharaan tanaman tempuyung tidak terlalu sulit karena tanaman ini dapat tumbuh liar di sembarang tempat. Untuk mendapatkan hasil yang baik, diperlukan pemeliharaan yang intensif, antara lain dengan penyiraman, penyulaman, penyiangan, pemupukan dan pengendalian hama.

d.  Menurut Laporan Iptekda LIPI, waktu panen yang baik adalah sebelum tanaman tersebut berbunga, sehingga diperoleh pertumbuhan vegetatif  yang optimal. Panen pertama dilakukan pada usia 2,5-3 bulan. Cara memanen daun tempuyung yaitu dengan memotong daun dan batang sampai pangkalnya dengan menggunakan gunting atau pisau tajam. Tanaman tersebut akan segera tumbuh kembali dengan munculnya tunas dan daun-daun baru. Panen kedua dilakukan dua bulan setelah panen pertama, dan seterusnya. Tanaman tersebut dapat dipanen 4-5 kali.

Menurut Materia Medika Indonesia jilid I, perbanyakan tempuyung dapat menggunakan bibit dari biji, dapat juga menggunakan bonggol akar dari tanaman yang daunnya habis dipanen. Tumbuhan ini sangat mudah dibudidayakan dengan biji. Biji tempuyung sangat halus, 1 gram biji berserat mengandung 2.500 biji, sedang biji tanpa serat mengandung 3.000 biji. Daya kecambah biji cepat menurun, oleh karena itu, sangat baik menggunakan biji yang baru yang disimpan paling lama 1 bulan.

Benih memerlukan penyemaian lebih dahulu agar tidak banyak yang mati kekeringan, rusak oleh terik matahari, terlalu basah atau lembab dan pengaruh keadaan lingkungan buruk yang lain. Persemaian dibuat dengan bedengan yang diolah dengan baik, permukaan butir tanahnya dihaluskan dan sebaiknya dilapisi pasir setebal 2 hingga 3 cm. Permukaan persemaian ditutup dengan lembaran plastik. Persemaian diberi atap pelindung yang menghadap ke timur. Untuk 1 hektar per tanaman diperlukan 100 g sampai 200 g biji tanpa serat dengan luas persemaian 10m2 sampai 20m2. Benih disebar rata di persemaian dan akan tumbuh 4 sampai 5 hari kemudian. Benih yang telah berumur 1 minggu mulai diperjarang dan dicabut untuk dipindahkan ke lubang sebesar pensil yang dibuat di permukaan bumbungan tanah yang telah dicampur pupuk kandang dan dibungkus dengan daun; tinggi bumbungan 5 cm dan garis tengah 3 cm. Tiap bumbungan diisi dengan 1 bibit.

Pemeliharaan persemaian dilakukan dengan penyiraman pagi dan sore hari, memperpanjang bibit dan memusnahkan bagian bibit yang mulai terserang penyakit. Setelah berumur 2 bulan, bibit dalam bumbungan sudah cukup besar dan kuat untuk ditanam di kebun; dua minggu sebelum ditanam, bibit dalam bumbungan dipindahkan ke tempat yang lebih terang untuk melatih tanaman terhadap terik matahari, ukuran bibit pada waktu dipindahkan ke kebun mencapai 3 sampai 5 cm. Berdaun 4 sampai 5 helai, panjang daun 5 sampai 10 cm dan lebar 2 sampai 3 cm.

Sonchus arvensis dapat ditanam di tanah yang kering atau tegalan pada musim hujan. Penanaman pada musim kemarau akan berhasil bila dilakukan di tanah yang dapat diairi, misalnya tanah sawah. Pengelolaan tanah dilakukan dengan mencangkul dua kali atau menggarpu satu kali, meratakan tanah dan membuat saluran tata air di sekeliling petakan. Pada keadaan tanah yang berat dan kurang baik tata airnya, tanah dicangkul lebih dalam dan dibuat bedengan atau guludan. Sebelum bedengan ditanami, dapat ditambahkan pupuk kandang sebanyak 10-15 ton tiap hektar, terutama pada tanah ynag kurang baik keadaan fisiknya dan kurang kesuburannya. Pada guludan dibuat lubang tanaman dengan cangkul atau tugal dengan jarak tanam 40 – 60 cm untuk ditanami bibit. Penanaman sebaiknya dilakukan lewat tengah hari, agar tanaman tidak cepat layu karena kepanasan. Pemakaian naungan sementara berupa daun atau batang pelepah pisang sangat dianjurkan, terutama untuk bibit yang kurang atau tidak terlatih terhadap sinar matahari selama di bumbungan. Naungan sementara ini diperlukan selama 1 – 2 minggu atau sampai bibit mulai lilir. Pemeliharaan terdiri dari penyiraman bila 2 atau 3 hari tidak ada hujan, menyulam 1 minggu sampai 2 minggu setelah tanam, menyiang 3 – 5 kali, memupuk pada umur 3 dan 8 minggu setelah tanam serta memangkas batang bunga agar pertumbuhan daun lebih banyak. Pemupukan dengan 34 kg nitrogen tiap hektar pada umur 3 minggu setelah tanam dapat meningkat hasil sebanyak 14%. Pemupukan kedua bila dipandang perlu diberikan pada umur 8 minggu setelah tanam dengan jumlah pupuk yang sama. Panen daun pertama dilakukan pada umur 2 bulan setelah tanam; panen selanjutnya dilakukan tiap ½ bulan sampai 1 bulan sekali hingga tanaman berumur 3 bulan sampai 5 bulan setelah tanam. Hasil yang diperoleh adalah 970 kg sampai 1.200 kg daun kering tiap hektar pada panen yang tidak terserang jamur karat (Puccinia Sonchus arvensis) dan penyakit busuk pangkal batang atau busuk akar. Bila terdapat serangan penyakit jamur karat, hasil yang diperoleh dapat berkurang 30% sampai 80%, yakni hanya dari panen pertama dan kedua. Penyakit karat merupakan faktor penghambat bagi budidaya Sonchus. Daun yang terserang, penuh bercak-bercak coklat kehitaman dan akhirnya mengering.

Penggunaan…..

Tempuyung telah lama berperan dalam dunia pengobatan tradisional. Tempuyung memiliki rasa pahit dan dingin serta berkhasiat menghilangkan panas dan racun, peluruh kencing (diuretik), penghancur batu (lipotriptik), antiurolitiasis dan menghilangkan bengkak, dengan cara ditempelkan pada bagian yang bengkak. Pemanfaatan daun tempuyung sebagai lipotriptika dan pelancar air seni semakin berkembang dan meluas. Hal ini terbukti dari beberapa jamu yang digunakan untuk pengobatan batu ginjal mencantumkan tempuyung sebagai salah satu penyusunnya. Di daerah Tawangmangu, daun tempuyung sudah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai jamu bagi wanita sehabis melahirkan untuk memulihkan kembali kesahatan fisiknya. Sedangkan di Cina, daun tempuyung selain digunakan sebagai obat juga digunakan sebagi insektisida (Supriadi, dkk, 2001). Herba tempuyung berguna untuk mengobati radang payudara, sedangkan daun tempuyung digunakan untuk mengobati hipertensi, kencing batu, kandung kencing dan empedu berbatu, dan asam urat.


Klasifikasi dan Tata Nama….

Taksonomi menurut PLANTS Profile (United States Department of Agriculture dari http://plants.usda.gov/java/profile?symbol=SOARA2) adalah sebagai berikut.

Kingdom           :      Plantae – tumbuhan

Subkingdom      :      Tracheobionta – tumbuhan berpembuluh

Superdivisi        :      Spermatophyta – tumbuhan berbiji

Divisi                 :      Magnoliophyta – tumbuhan berbunga

Kelas                 :      Magnoliopsida – Dikotil

Subkelas            :      Asteridae

Ordo                  :      Asterales

Family               :      Asteraceae

Genus                :      Sonchus

Species              :      Sonchus arvensis L.

Subspecies       :      Sonchus arvensis L. ssp. arvensis

Nama daerah : Jombang, Galibug, Lalakina, Lempung, Rayana (Sunda), Lampenas, Gempur batu, Tempuyung, Niu She Tou, Lampaka (Filipina), Laitron des champs (Perancis), Sow thisle (Inggris)