Reaksi hipersentivitas

Reaksi hipersentivitas yaitu reaksi imun patologik, terjadi akibat respon imun yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. Pengaruh yang tidak menguntungkan dari proses imun menjadi dasar dari banyak penyakit pada manusia dan dapat mengganggu setiap sistem organ yang penting. Selain itu, perubahan karakteristik pada reaktan imun yang memberikan kunci diagnostik yang penting menyertai banyak keadaan sebagai akibat atau peristiwa yang pararel. Sekarang sudah jelas, bahwa respon antibodi normal dan respon yang diperantarai sel menyangkut serangkaian langkah, yang masing-masing dimodulasi oleh kelompok-kelompok sel tertentu. Gangguan pada proses pengawasan ini dapat menyebabkan reaksi imun yang berlebihan atau yang tidak semestinya. Lebih jarang, penyakit terjadi bila mekanisme hipersensitivitas tipe cepat dan lambat yang normal bersifat melindungi, terganggu atau gagal berkembang biak secara normal.

Berbagai keadaan imunologik dapat dipandang sebagai keseimbangan antara pengaruh patogenik dari dua kelompok faktor: benda asing dari suatu penyakit yang berpotensi membahayakan (misalnya, mikroorganisme) dan respon pertahanan tubuh, yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan atau gangguan fungsi. Imunitas pelindung dan penyakit alergi bersama-sama memiliki respon jaringan terhadap zat-zat yang dikenal sebagai “asing”. Mekanisme imun memberikan pertahanan yang esensial melawan invasi organisme yang menimbulkan cedera dan timbulnya tumor ganas, fungsi yang sudah menjamin mereka bertahan selama evolusi vertebrata. Namun, proses-proses yang sama ini dapat ditimbulkan oleh agen-agen ekstrinsik yang relatif tidak membahayakan, dan kadang-kadang dapat memusatkan reaksi pada komponen-komponen jaringan hospes. Dalam keadaan ini, maka hasil bersih dari keterbukaan dan respon hospes yang spesifik tidak menguntungkan; gambaran keadaan penyakit yang timbul dikenal sebagai penyakit imunologik. Keadaan ini berbeda-beda jenis berkisar dari gangguan ringan, gangguan kulit atau gangguan membran mukosa yang kronik sampai keadaan katatrofik yang mematikan dalam berberapa detik.

Selanjutnya, karena penyakit imunologik ditentukan oleh reaktivitas hospes maupun oleh jenis dan kekuatan antigenik, maka perbedaan tempat prevalensi adalah menyolok. Namun, secara keseluruhan, gangguan ini sangat sering dijumpai, dan dampak mereka pada kehidupan dan produktivitas manusia nyata di seluruh dunia. Reaksi-reaksi klinis dari hipersensitivitas cepat atau lambat terjadi karena sebelumnya pernah kontak dengan agen tertentu, agen yang mempunyai karakteristik kimia tertentu, yang mengsensitisasi/individu terhadap partikel tertentu. Peristiwa seluluar yang menyertai dan menimbulkan kemampuan memberi respon hipersensitiviats dinamakan sensitisasi. Terkenanya kembali dengan antigen tertentu dapat menyebabkan sel yang sudah tersensitisasi, seperti halnya beberapa tipe imunoglobulin, menghasilkan respon “pertahanan” yang khusus. Tidak mengherankan, bahwa reaksi hipersensitivitas klinis pada manusia menunjukkan bukti adanya lebih dari satu proses imunologis, masing-masing dengan sistem amplifikasinya yang khusus. Kompleksitas seperti ini mudah dimengerti, di mana “penyerang” itu sendiri secara antigenik bersifat kompleks, (misalnya, suatu mikroorganisme) tetapi juga dapat ditimbulkan oleh protein tunggal tertentu. Pembentukan antibodi terhadap toksin dan terhadap kuman, yang memberi proteksi kepada tubuh, kemudian ternyata tidak selalu bermanfaat sebagai perlindungan karena proses kekebalan juga mempunyai potensi untuk menimbulkan reaksi yang merugikan tubuh. Magendi (1837) melaporkan bahwa anjing yang disuntik berkali-kali dengan albumin telur dapat mati mendadak. Portier dan Richet yang menyuntik aning dengan ekstrak anemon laut untuk mendapatkan reaksi kekebalan, ternyata menemukan reaksi yang sangat berlainan pada suntikan kedua karena anjing itu menjadi sakit keras dan kemudian mati. Mereka menamakan reaksi ini anaphylaxis (ana = menentang, phylixis = proteksi). Kemudian ditemukan reaksi yang serupa pada binatang lain dan pada pemakaian serum imun berasal dari binatang untuk pengobatan penyakit infeksi pada manusia juga ditemukan reaksi yang tidak diinginkan. Von Pirquet (1906) mengusulkan nama “alergi” yang berarti reaksi yang berlainan. Pada waktu itu, penambahan daya tahan tubuh disebut kekebalan atau imunitas dan penambahan kepekaan tubuh disebut hipersentivitas. Sekarang istilah hipersensitivitas dan alergi dianggap sebagai sinonim dan keduanya menunjukkan kondisi badan yang berubah setelah berkontak dengan antigen, sedemikian rupa sehingga antigen itu atau antigen yang mirip dengannya dapat menimbulkan reaksi patologis dalam badan.

Seperti yang telah disebutkan diatas, reaksi alergi semula dibagi dalam 2 golongan berdasarkan kecepatan timbulnya reaksi, yaitu: 1. Tipe cepat (immediate type, antibody-mediated). Respon muncul sekitar dua puluh menit setelah terkena alergen 2. Tipe lambat (delayed type, cell-mediated). Respon muncul satu hari atau lebih setelah terpapar. Adanya perbedaan waktu disebabkan perbedaan mediator yang terlibat. Jika reaksi hipersensitivitas tipe cepat melibatkan sel B, reaksi hipersensitivitas tipe lambat melibatkan sel T. Coombs dan Gell membedakan 4 jenis reaksi hipersensitivitas dan kemudian ditambah 1 jenis lagi reaksi yang lain. Reaksi tipe I, II, III dan V berdasarkan reaksi antara antigen dan antibodi humoral dan digolongkan dalam jenis reaksi tipe cepat, walaupun kecepatan timbulnya reaksi mungkin berbeda. Reaksi tipe IV mengikutsertakan reseptor dan permukaan sel limfosit (cell mediated) dan karena reaksinya lambat disebut tipe lambat (delayed type). Kelima jenis reaksi tersebut adalah:

Tipe I : Anafilaksis

Tipe II : Cytotoxic

Tipe III : Complex-mediated

Tipe IV : Cell-mediated (delayed type)

Type V : Stimulatory hypersensitivity

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: